Selasa, 19 April 2016

Profil Kota Jambi


PROFIL KOTA JAMBI

1.      LAMBANG PROVINSI JAMBI

SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH

Description: http://jambiprov.go.id/images/logo.jpg

Pada logo Provinsi Jambi yang ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 1969 tertera kalimat Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.

PENGERTIAN LAMBANG DAERAH
  1. Bidang dasar persegi lima :
    Melambangkan jiwa dan semangat PANCASILA Rakyat Jambi.
  2. Enam lobang mesjid dan satu keris serta fondasi mesjid dua susun batu diatas lima dan dibawah tujuh : Melambangkan berdirinya daerah Jambi sebagai daerah otonom yang berhak mengatur rumahtangganya sendiri pada tanggal 6 Januari 1957.
  3. Sebuah mesjid :
    Melambangkan keyakinan dan ketaatan Rakyat Jambi dalam beragama.
  4. Keris Siginjai :
    Keris Pusaka yang melambangkan kepahlawanan Rakyat Jambi menentang penjajahan dan kezaliman menggambarkan bulan berdirinya Provinsi Jambi pada bulan Januari.
  5. Cerana yang pakai kain penutup persegi sembilan :
    Melambangkan Keiklasan yang bersumber pada keagungan Tuhan menjiwai Hati Nurani.
  6. GONG :
    Melambangkan jiwa demokrasi yang tersimpul dalam pepatah adat "BULAT AIR DEK PEMBULUH, BULAT KATO DEK MUFAKAT".
  7. EMPAT GARIS :
    Melambangkan sejarah rakyat Jambi dari kerajaan Melayu Jambi hingga menjadi Provinsi Jambi.
  8. Tulisan yang berbunyi: "SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH" didalam satu pita yang bergulung tiga dan kedua belah ujungnya bersegi dua melambangkan kebesaran kesatuan wilayah geografis 9 DAS dan lingkup wilayah adat dari Jambi : "SIALANG BELANTAK
  9. BESI SAMPAI DURIAN BATAKUK RAJO DAN DIOMBAK NAN BADABUR, TANJUNG JABUNG".

2.      SEJARAH BERDIRINYA PROVINSI JAMBI

 

Kota Jambi adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Jambi, Indonesia. Dahulu dikenal dengan nama Djambi (1946-1972).Kota Jambi dibelah oleh sungai yang bernama Batanghari, kedua kawasan tersebut terhubung oleh jembatan yang bernama jembatan Aur Duri. Pemerintah Kota Jambi dibentuk dengan Ketetapan Gubernur Sumatera No. 103/1946 sebagai Daerah Otonom Kota Besar di Sumatera, yang kemudiannya disokong pula dengan Undang - undang No.9/1956 dan dinyatakan sebagai Daerah Otonom Kota Besar dalam lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.Dengan pembentukan Provinsi Jambi pada tarikh 6 Januari 1948, maka Kota Jambi secara rasmi menjadi Ibukota Provinsi. Dengan yang demikian, Kota Jambi sebagai Daerah Tingkat II pernah terletak di bawah tiga Provinsi yaitu Provinsi Sumatera, Provinsi Sumatera Tengah dan kini pula di bawah Provinsi Jambi.
        Melihat tempo waktu antara Proklamasi Kemerdekan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan pembentukan Pemerintah Kota Jambi pada 17 Mei 1946, merupakan tempo masa yang agak singkat. Dengan yang demikian jelas, bahawa Pembentukan Pemerintah Otonom Kota Besar Jambi pada saat ini, dipengaruhi dengan kuat oleh jiwa dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945. Walaupun demikian, menurut catatan sejarah, penubuhan Kota Jambi bersamaan dengan berdirinya Provinsi Jambi, namun tarikh ulang tahunnya ditetapkan dua tahun lebih awal, bersesuaian dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Jambi No.16/1985 yang disahkan oleh Gabenor Kepala Daerah Tingkat I Jambi dengan Surat Keputusan No. 156/1986, bahwa Hari Pembentukan Pemerintah Kota Jambi adalah pada tarikh 17 May 1946.

3.      PROFIL WILAYAH KOTA JAMBI
a.      Letak Wilayah dan Topografi
Secara geografis Provinsi Jambi terletak pada 0o45’-2o45’ Lintang Selatan dan 101o10’-104o55’ Bujur Timur di bagian tengah Pulau Sumatera, sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau, Sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan Provinsi Kepulauan Riau, sebelah Selatan berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat. Posisi Provinsi Jambi cukup strategis karena langsung berhadapan dengan kawasan pertumbuhan ekonomi yaitu IMS-GT (Indonesia, Malaysia, Singapura Growth Triangle). Luas wilayah Provinsi Jambi sesuai dengan Undang-undang Nomor 19 tahun 1957, tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau, yang kemudian ditetapkan menjadi Undang-Undang Nomor 61 tahun 1958 (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 112) adalah seluas 53.435,72 km2 dengan luas daratan 50.160,05 km2 dan luas perairan 3.274,95 Km2 yang terdiri atas :
1.      Kabupaten Kerinci 3.355,27 Km2 (6,67%)
2.      Kabupaten Bungo 4.659 Km2 (9,25%)
3.      Kabupaten Merangin 7.679 Km2 (15,25%)
4.      Kabupaten Sarolangun 6.184 Km2 (12,28%)
5.      Kabupaten Batanghari 5.804 Km2 (11,53%)
6.      Kabupaten Muaro Jambi 5.326 Km2 (10,58%)
7.      Kabupaten Tanjab Barat 4.649,85 Km2 (9,24%)
8.      Kabupaten Tanjab Timur 5.445 Km2 (10,82%)
9.      Kabupaten Tebo 6.641 Km2 (13,19%)
10.  Kota Jambi 205,43 Km2 (0,41%)
11.  Kota Sungai Penuh 391,5 Km2 (0,78%)

Secara administratif, jumlah kecamatan dan desa/kelurahan di Provinsi Jambi tahun 2010 sebanyak 131 Kecamatan dan 1.372 Desa/Kelurahan, dimana jumlah Kecamatan dan Desa/Kelurahan terbanyak di Kabupaten Merangin yaitu 24 Kecamatan dan 212 Desa/Kelurahan.
Secara topografis, Provinsi Jambi terdiri atas 3 (tiga) kelompok variasi ketinggian (Bappeda, 2010):
  1. Daerah dataran rendah 0-100 m (69,1%), berada di wilayah timur sampai tengah. Daerah dataran rendah ini terdapat di Kota Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagian Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin
  2. Daerah dataran dengan ketinggian sedang 100-500 m (16,4%), pada wilayah tengah. Daerah dengan ketinggian sedang ini terdapat di Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin serta sebagian Kabupaten Batanghari; dan
  3. 3) Daerah dataran tinggi >500 m (14,5%), pada wilayah barat. Daerah pegunungan ini terdapat di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh serta sebagian Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin.
Provinsi Jambi memiliki topografi wilayah yang bervariasi mulai dari ketinggian 0 meter dpl di bagian timur sampai pada ketingian di atas 1.000 meter dpl, ke arah barat morfologi lahannya semakin tinggi dimana di bagian barat merupakan kawasan pegunungan Bukit Barisan yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat yang merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. 

Description: http://jambiprov.go.id/images/letluas1.jpg













PETA KOTA JAMBI
















b.      Klimatologi
Provinsi Jambi sebagai salah satu Provinsi di Sumatera yang terkenal dengan iklim tropis dan kaya akan sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati, namun juga tetap menjadi kerentanan terjadi perubahan iklim. Gejala perubahan iklim seperti kenaikan temperatur, perubahan intensitas dan periode hujan, pergeseran musim hujan/kemarau, dan kenaikan muka air laut, akan mengancam daya dukung lingkungan dan kegiatan seluruh sektor pembangunan. Sepanjang tahun 2011, Provinsi Jambi memiliki karakteristik curah hujan sedang dan lembab, sehingga Jambi termasuk daerah yang beriklim tropis. Rata-rata curah hujan pada tahun 2010 mencapai 3.030 mm, sedangkan jumlah penyinaran matahari 4,2 jam perhari dengan kelembaban udara rata-rata sebesar 97%. Suhu udara rata-rata mencapai 27 derajat Celsius, sedangkan untuk dataran tinggi di Wilayah Barat mencapai 22 derajat celcius.

 c.       Hidrologi
Kota Jambi dibelah oleh Sungai Batanghari menjadi 2 (dua) bagian besar yaitu bagian selatan dan bagian utara. Bagian selatan merupakan bagian terbesar wilayah Kota Jambi dimana di wilayah bagian selatan ini sedikitnya terdapat 5 (lima) buah anak Sungai Batanghari, yaitu :
a. Sungai Kenali Besar
Sungai ini melewati Kecamatan Kotabaru dan Kecamatan Telanaipura,kemudian masuk kedalam Danau Kenali terus ke Danau Sipin dan akhirnya bermuara ke Sungai Batanghari.
b. Sungai Kambang
Daerah pengaliran Sungai Kambang meliputi sebagian Kelurahan Simpang III Sipin di Kecamatan Kotabaru dan Kelurahan Simpang IV Sipin.
c. Sungai Asam
Daerah pengaliran Sungai Asam meliputi Kecamatan Kota Baru (yaitu meliputi sebagian Kelurahan Kenali Asam Bawah, sebagian Kelurahan Kenali Asam Atas, Kelurahan Sukakarya, Kelurahan Simpang III Sipin dan Kelurahan Paal Lima), Kecamatan Jelutung (yaitu meliputi Kelurahan Jelutung, Kelurahan Lebak Bandung dan Kelurahan Cempaka Putih), Kecamatan Pasar Jambi (meliputi Kelurahan Beringin dan Kelurahan Orang Kayo Hitam).
d. Sungai Tembuku
Daerah pengaliran Sungai tembuku meliputi sebagian Kecamatan The Hok, Kelurahan Tambak Sari, sebagian Kelurahan Kebon Handil, Kelurahan Jelutung, sebagian Kelurahan Cempaka Putih, Kelurahan Talang Jauh, sebagian Kelurahan Sulanjana, Kelurahan Rajawali dan Kelurahan Kasang.
e. Sungai Selincah
Daerah pengaliran Sungai Selincah meliputi Kelurahan Talang Bakung dan Kelurahan Sejinjang.Sungai Batanghari selain berfungsi hidrologis juga berfungsi sebagai prasarana transportasi dan penunjang kegiatan ekonomi masyarakat serta sebagai sumber   air baku untuk air minum. Sedangkan danau yang ada di Kota Jambi antara lain adalah Danau Sipin, Danau Teluk, Danau Penyengat dan Danau Kiambang.

d.      Penggunaan Lahan
Di luar hutan, penggunaan lahan Provinsi Jambi masih didominasi oleh perkebunan karet dengan kontribusi sebesar 26,20%. Diikuti oleh perkebunan sawit sebanyak 19,22%. Sisanya berturut-turut terlihat pada tabel 1.2 di bawah ini.

                Description: http://jambiprov.go.id/images/letluas2.jpg

Sebagian besar lahan di Provinsi Jambi digunakan untuk kegiatan budidaya pertanian, baik pertanian lahan sawah maupun pertanian lahan bukan sawah. Berdasarkan karakter komplek ekologinya, perkembangan kawasan budidaya khususnya untuk pertanian terbagi atas tiga daerah yaitu kelompok ekologi hulu, tengah dan hilir. Masing-masing memiliki karakter khusus, dimana pada komplek ekologi hulu merupakan daerah yang terdapat kawasan lindung, ekologi tengah merupakan kawasan budidaya dengan ragam kegiatan yang sangat bervariasi dan komplek ekologi hilir merupakan kawasan budidaya dengan penerapan teknologi tata air untuk perikanan budidaya dan perikanan tangkap.

e.       Potensi Wilayah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau Iingkungan, termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan strategis nasional yang berada di Provinsi Jambi ditetapkan dengan pertimbangan dari sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Adapun Kawasan Strategis Nasional yang termasuk dalam kawasan wilayah Provinsi Jambi meliputi :
1.      Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan)
2.      Kawasan Taman Nasional Berbak (Provinsi Jambi)
3.      Kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (Provinsi Jambi dan Riau)
4.      Kawasan Taman Nasional Bukit Duabelas (Provinsi Jambi)

4.      Demografi Penduduk
Menurut BPS (2010), penduduk Provinsi Jambi tahun 2010 berjumlah 3.092.265 jiwa dengan tingkat kepadatan rata-rata sebesar 61,65 jiwa/km2 kecuali Kota Jambi sebesar 2.588,99 jiwa/km2 dan Kota Sungai Penuh sebesar 210,20 jiwa/km2. Sebagaimana karakter ibukota Provinsi pada umumnya yaitu sebagai pusat pemerintahan, industri dan perdagangan, maka Kota Jambi juga merupakan daerah tujuan arus migrasi. Dilihat dari posisi kewilayahan barat dan timur, maka prosentase distribusi penduduk di kedua wilayah tersebut terlihat relative seimbang, yaitu 52% untuk wilayah timur (Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Kota Jambi), dan 48% untuk wilayah barat (Kerinci, Sungai Penuh, Merangin, Sarolangun, Bungo dan Tebo).

Description: http://jambiprov.go.id/images/letluas3.jpg













Description: http://jambiprov.go.id/images/letluas4.jpg















5.      KONDISI MASYARAKAT

a. Bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama
Pembangunan bidang sosial budaya dan keagamaan terkati erat dengan kualitas kehidupan manusia, masyarakat dan lingkungan sosial. Kondisi tersebut tercermin dari jumlah dan komposisi demografi, maupun aspek kualitas sumber daya manusia (SDM).
1. Di bidang kependudukan, upaya pengendalian laju pertumbuhan dan penyebaran penduduk yang dilakukan selama ini, dari waktu ke waktu telah mampu menekan tingkat pertumbuhan penduduk dan menyeimbangkan penyebarannya. Namun demikian, jumlah penduduk Provinsi Jambi terus meningkat, baik akibat kelahiran maupun perpindahan penduduk dari luar daerah. Pada tahun 2000 penduduk provinsi Jambi berjumlah 2.407.166 jiwa, pada tahun 2004 meningkat menjadi 2.619.553 jiwa dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1.6 persen dan dengan laju pertumbuhan demikian maka pada tahun 2025 diprediksi meningkat menjadi 3.509.531 jiwa. Begitu pula dilihat dari mobilitas penduduk terdapat kecenderungan peningkatan urbanisasi,sehingga peningkatan jumlah penduduk terkonsentrasi pada wilayah perkotaan.
2.Meningkatnya pemahaman terhadap keragaman budaya, pentingnya toleransi, dan pentingnya sosialisasi penyelesaian masalah tanpa kekerasan, serta mulai berkembangnya interaksi antarbudaya merupakan pertanda pembangunan budaya sudah mengalami kemajuan.Namun di sisi lain upaya pembangunan jatidiri bangsa seperti : penghargaan terhadap nilai budaya nasional dan budaya daerah, nilainilai solidaritas sosial, kekeluargaan, dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. Hal tersebut disebabkan antara lain oleh kurangnya keteladanan para pemimpin, lemahnya budaya patuh pada hukum,cepatnya penyerapan budaya global yang negatif, dan kurang mampunya menyerap budaya global yang lebih sesuai dengan karakter bangsa, serta ketidak merataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
b. Bidang Sarana dan Prasarana
1. Perkembangan pertumbuhan penduduk Provinsi Jambi yang merupakan pijakan dasar dalam perencanaan pembangunan dalam tiga dekade terakhir ini pertumbuhannya cukup signifikan, dimana selama periode 1971 – 1980 mencapai 4,07%. Kemudian sedikit turun selama periode 1980-1990 menjadi sebesar 3,4% dan untuk periode 1990-2000 turun lagi menjadi 1,84%. Untuk ke depan, pertumbuhan penduduk rata-rata diperkirakan tetap seperti periode sebelumnya selama periode 2000-
2010 kemudian turun pada periode 2010-2020 menjadi 1,44% dan akhirnya pada 2020-2025 tingkat pertumbuhannya menjadi 1,04%.Dengan pola pertumbuhan penduduk seperti di atas diperkirakan jumlah penduduk mencapai 3.509.531 jiwa pada tahun 2025, kebutuhan perumahan selama 20 tahun mendatang diperkirakan akan semakin meningkat pula. Peningkatan jumlah penduduk sangat erat kaitannya dengan peningkatan kebutuihan perumahan. Pada tahun 1999 kebutuhan rumah untuk Provinsi Jambi mencapai 550.260 unit, namun pada tahun 2004 terjadi peningkatan yang cukup tajam yaitu sudah mencapai 813.335 unit dengan laju pertumbuhan 8,13% per tahun. Dari total kebutuhan untuk tahun 2004 tersebut yang dapat dipenuhi baru mencapai 732.477 unit yang pemenuhannya oleh perumnas 3.950 unit (0,54%), perorangan 696.858 unit (95,14%) dari yang dapat dipenuhi. Permasalahan dalam hal ini adalah peran pemerintah dan swasta dalam penyediaan rumah bagi masyarakat masih sangat terbatas dan sampai saat ini umumnya kebutuhan rumah sebagian besar penyediaan kebutuhan masih diusahakan sendiri (perorangan) yang mencapai 85,68% dari total kebutuhan perumahan.
2. Sampai saat ini kemampuan pemerintah dalam penyediaan sarana dan prasarana perumahan layak dan murah bagi penduduk Jambi yang berpendapatan rendah masih sangat terbatas. Terbatasnya kemampuan pemerintah ini menjadi pemicu menurunnya kualitas kawasan perumahan yang dihuni oleh masyarakat berpendapatan rendah.Menurunnya kualitas lingkungan perumahan dan permukiman ini khususnya di daerah perkotaan merupakan permasalahan yang perlu diantisipasi ke depan. Hal ini  disebabkan karena cakupan penanganan persampahan di kawasan perkotaan di Provinsi Jambi masih sangat rendah. Kondisi ini menyebabkan pencemaran lingkungan akibat meningkatnya jumlah sampah dan akan berpengaruh pada kesehatan lingkungan dan derajat kesehatan masyarakat.
3.Sejak terjadi Krisis ekonomi pada pertengahan tahun 1997 sangat berdampak pada menurunnya kualitas infrastruktur terutama prasarana jalan yang saat ini kondisinya sangat memperhatinkan. Untuk Provinsi Jambi sampai tahun 2004 dari seluruh panjang jalan yang berada dalam kondisi baik hanya mencapai 43,4%, kondisi sedang 35,6% kondisi rusak 27,4% dan rusak berat mencapai 16,1%. Bahkan pada wilayah tertentu kondisi jalan rusak mencapai 80%. Cukup tingginya prosentase jalan
yang rusak dan rusak berat ini tidak terlepas dari akibat pembebanan muatan lebih (excessive over loading) terutama yang disebabkan oleh truk dengan tonase tinggi sehingga berakibat hancurnya jalan sebelum umur teknis jalan tersebut tercapai. Dengan cukup tingginya prosentase jalan yang rusak dan rusak berat tersebut, maka ke depan Pemerintah Provinsi Jambi harus tetap memprioritaskan perbaikan dan peningkatan prasarana jalan seluruh wilayah Jambi. Disamping itu untuk mendorong
pengembangan wilayah, pembangunan prasarana transportasi jalan yang merupakan urat nadi perekonomian ini harus terus ditingkatkan. Hal ini disebabkan pertumbuhan ekonomi daerah yang terus meningkat membutuhkan prasarana jalan yang terus meningkat pula. Disamping
pembangunan jalan, saat ini juga memperioritaskan pembangunan infrastruktur transportasi darat lainnya berupa jembatan yakni pembangunan Jembatan Batanghari II yang terletak di Kelurahan Sijenjang, Jambi – Muara Sabak. Jembatan ini akan menghubungkan Kota Jambi denga wilayah sekitarnya, yaitu Kabupatan Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Muaro Jambi dan memiliki panjang sekitar 2.262 meter dan lebar sekitar 9 meter yang saat ini masih dalam tahap pengerjaan.
c. Bidang Wilayah dan Tata Ruang
1. Untuk Provinsi Jambi upaya-upaya pembangunan wilayah yang relatif masih tertinggal, walaupun telah dimulai dalam dua dekade terakhir namun sampai saat ini masih banyak dijumpai wilayah-wilayah tertinggal yang belum tersentuh oleh program-program pembangunan sehingga masyarakatnya mempunyai keterbatasan akses terhadap pelayanan sosial, ekonomi dan politik serta terisolir dari wilayah di sekitarnya terutama daerah perkotaan. Keadaan kabupaten. Keadaan ini akan menciptakan kantong-kantong kemiskinan sehingga berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin di provinsi Jambi. Sampai tahun 2004 jumlah penduduk miskin masih mencapai 12,45% dari jumlah penduduk atau mencapai 325.000 jiwa. Dengan demikian untuk kesejahteraan kelompok masyarakat yang hidup di wilayah tertinggal termasuk komunitas adat terpencil (KAT) atau suku anak dalam (SAD) yang umumnya tergolong miskin ini memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari pemerintah Provinsi Jambi. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah tertinggal, termasuk yang masih dihuni oleh komunitas adat terpencil (KAT) antara lain:
(1) sangat minimnya sarana perhubungan yang menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju: (2) menyebarnya tempat tinggal penduduk dengan kepadatannya yang relatif rendah: (3) Kebiasaan hidup berpindah (melangun) khususnya bagi komunitas adat tertinggal (KAT) atau suku anak dalam (SAD) yang hidup mengembara pada wilayah tertentu di hutan-hutan provinsi Jambi. (4) miskinnya wilayah-wilayah ini dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia; (5) pembangunan di wilayah tertinggal belum diprioritaskan oleh pemerintah (6) dukungan sektor terkait belum optimal untuk pengembangan wilayah-wilayah tertinggal ini.
2. Untuk Provinsi Jambi cukup banyak wilayah-wilayah yang memiliki produk unggulan (sawit, karet, kelapa dan casiavera dan tanaman pengan) serta lokasinya yang strategis, namun belum dikembangkan secara optimal seperti contohnya Kecamatan Jangkat dengan produk unggulannya kentang dan kopi. Hal ini disebabkan antara lain: (1) lemahnya penguasaan teknologi dan terbatasnya informasi pasar dan untuk pengembangan produk unggulan: (2) belum berkembangnya jiwa kewirausahaan dari petani dan sikap profesionalisme dari pelaku dunia usaha; (3) dukungan kebijakan daerah yang berpihak pada petani dan pelaku usaha swasta belum optimal; (4) infrastruktur kelembagaan sosial dan ekonomi yang berorientasi untuk pengembangan usaha belum berkembang; (5) koordinasi, sinergi, dan kerjasama diantara pelaku-pelaku pengembangan kawasan masih lemah untuk meningkatkan daya saing produk unggulan; (6) keterbatasan akses petani dan pelaku usaha skala kecil terhadap modal pengembangan usaha, input produksi, dukungan teknologi, dan jaringan pemasaran untuk pengambangan peluang usaha dan kerjasama investasi; (7) prasarana dan sarana fisik (jalan-jalan ke sentra produksi dan ekonomi) untuk mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah sangat terbatas; serta (8) kerjasama antar kabupaten untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan dan produk unggulan belum optimal. Pada hakekatnya wilayah-wilayah yang strategis ini dapat tumbuh lebih cepat karena memiliki produk unggulan, dan diharapkan setelah wilayah ini berkembang dapat memicu pertumbuhan wilayah-wilayah sekitarnya
yang masih tertinggal karena miskin sumberdaya dan masih terbelakang.
3. Pesatnya aktivitas pembangunan terutama di perkotaan telah membawa dampak yang negatif baik secara fisik (penurunan kualitas lingkungan, konversi lahan pertanian) maupun permasalahan sosial ekonomi. Untuk kedepan Provinsi Jambi harus mengantisipasi terhadap dampak negatif yang ditimbulkan oleh pembangunan di perkotaan tersebut. Dampak tersebut antara lain adalah; (1) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi perkotaan telah dilakukan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alamnya sehingga menurunnya kualitas lingkungan fisiknya dan timbulnya polusi; (2) meningkatnya konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan pemukiman, perdagangan, dan industri; (3) terjadinya penurunan kualitas hidup masyarakat di perkotaan karena permasalahan sosial-ekonomi, serta penurunan kualitas pelayanan kebutuhan dasar perkotaan.
4. Secara umum untuk Provinsi Jambi kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di pedesaan umumnya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Keadaan ini disebabkan kecenderungan investasi ekonomi oleh swasta maupun pemerintah (infrastruktur dan kelembagaan) terkonsentrasi di daerah perkotaan. Selain dari pada itu, kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan masih banyak yang yang tidak sinergis dengan kegiatan ekonomi yang dikembangkan di wilayah pedesaan. Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan pedesaan (trickling down effect) justru memberikan dampak yang merugikan pertumbuhan pedesaan (backwash effects).
5. Untuk Provinsi Jambi pembangunan yang dilakukan di suatu wilayah saat ini masih sering dilakukan tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya. Keinginan untuk memperoleh keuntungan ekonomi jangka pendek seringkali menimbulkan keinginan untuk mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) secara berkelebihan bahkan cendrung agresif dan exploitatif sehingga menurunkan kualitas
(degradasi) dan kuantitas (deplesi) SDA dan lingkungan hidup. Selain itu, seringkali pula terjadi konflik antar kehutanan dan pertambangan. Salah satu penyebab terjadi permasalahan tersebut adalah karena pembangunan yang dilakukan dalam wilayah tersebut belum mengunakan ”Rencana Tata Ruang” sebagai acuan koordinasi dan sinkronosasi pembangunan antar sektor dan antar wilayah. Untuk Provinsi Jambi telah terjadi penyimpangan pemanfaatan dan pengendalian ruang RTRW Provinsi Jambi karena a). Tumpang tindihnya pengalokasian ruang baik untuk perkebunan besar maupun HTI seperti terlihat di kecamatan Tungkal Ulu bagian selatan,Mendahara Selatan dan Muara Bulian. b). Tumpang tindihnya pengalokasian ruang untuk perkebunan besar dengan pemukiman transmigrasi dan Hutan Lindung gambut seperti Pamenang, Tungkal Ulu, Mendahara dan Kuamang Kuning. c). Tumpang tindihnya areal HPH dengan kawasan lindung, sehingga diperkirakan beberapa areal HPH yang telah memasuki kawasan hutan lindung seperti di kecamatan Muara Siau, Jangkat, Batang Asai, Kumpeh. Hal ini berarti perlu dilakukan peninjauan kembali dengan mengakomodasikan perubahanperubahan tersebut, baik perubahan ekonomi, asumsi-asumsi, strategi maupun arah kebijakan dalam pengelolaan ruang wilayah dengan mewujudkan pola dan struktur tata ruang yang baru.

6.      Potensi Wisata Kota Jambi :
1.      Candi Muaro Jambi
Kompleks Percandian Muaro Jambi yang di dalamnya tersimpan lebih dari 80 reruntuhan candi dan sisa-sisa permukiman kuno dalam rentang abad IX-XV Masehi. Meskipun belum sepopuler candi lain di Pulau Jawa, situs purbakala yang diyakini juga sebagai salah satu pusat pengembangan agama Buddha di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya ini merupakan aset yang dapat dimanfaatkan di bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, pariwisata, sosial, agama, dan ekonomi. Situs purbakala ini membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari sepanjang 7,5kilometer.Kompleks percandian ini dapat ditempuh melalui darat dan sungai dengan jarak dari Kota Jambi sejauh 30 Km. Dari sekitar 80 reruntuhan candi yang sudah diketahui, yang oleh masyarakat setempat disebut menapo, baru sebagian kecil yang sudah dipugar. Berdasarkan sisa-sisa reruntuhan yang ada, sebuah bangunan menggunakan batu merah.
Candi-candi yang sudah dibangun dan bisa dikunjungi wisatawan adalah Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, dan kolam Talaga Rajo. Juga terdapat Kanal-Kanal Tua yang mengelilingi komplek Percandian ini. Lokasinya tersebar di Desa Muaro Jambi, Kemingking Dalam, dan Danau Lamo. Pemprov Jambi telah menyusun master plan pengembangan situs candi Muaro Jambi dan berikut Design Engineering (DED) detail untuk menentukan Restorasi Pengembangan Situs tersebut sebesar lebih kurang 12 triliyun.
2.      Hutan Harapan
Hutan Harapan merupakan proyek restorasi hutan produksi yang terletaperbatasan Provinsi Jambi-Sumatera Selatan yang mempuanyai luas sekitar 101.000 Ha. Sejak 2006, konsorsium PT Restorasi Ekosistem Konservasi Indonesia memperoleh konsesi dari pemerintah untuk merestorasi hutan tersebut. Di hutan ini juga terdapat sekitar 280 jenis burung, 69 jenis di antaranya hampir punah. Selain itu, terdapat 159 jenis pohon. Salah satu di antaranya sudah rentan, yaitu jenis kayu bulian dan juga terdapat 49 jenis binatang mamalia dan 43 jenis binatang amfibi, permukiman Suku Anak Dalam (SAD) dan Suku Bathin Sembilan. Kedua komunitas ini merupakan suku asli tertinggal yang telah menetap di dalam hutan sejak ratusan tahun lalu, yang hingga kini masih mengandalkan hutan sebagai tempat tinggal dan mencari makan.Dalam kunjungannya ke hutan harapan Pangeran Charles menyatakan kekagumannya melihat keelokan hutan Harapan. Hutan yang memiliki luas sekitar 100 ribu hektare ini dinilai masih relatif baik. "Sangat bagus karena hutan ini nantinya dapat mengurangi emisi karbon. Kondisi ini perlu didukung semua pihak," ujar Pangeran Charles dalam kunjungan ke Hutan Harapan kemarin.

3.      Taman Nasional Berbak
Merupakan kawasan pelestarian alam untuk konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggara yang belum terjamah oleh eksploitasi manusia. Keunikannya berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa gambut dan hutan rawa air tawar yang terbentang luas di pesisir Timur Sumatera.Jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain meranti (Shorea sp.), dan berbagai jenis palem. Taman Nasional Berbak terkenal memiliki paling banyak jenis palem tanaman hias di Indonesia. Jenis palem tanaman hias yang tergolong langka antara lain jenis daun payung (Johanesteijmannia altifrons) serta jenis yang baru ditemukan yaitu Lepidonia kingii (Lorantaceae) yang berbunga besar dengan warna merah/ungu. Ratusan bahkan ribuan burung migran dapat dilihat di taman nasional ini, yang dapat menimbulkan kekaguman apabila burung-burung tersebut terbang secara berkelompok.
4.      Taman Nasional Bukit Tiga puluh                                                                                          Kawasan taman nasional ini memiliki luas keseluruhan 144.223 hektar. Sebelumnya merupakan dua buah kawasan hutan lindung yaitu Hutan Lindung Haposipin di Provinsi Riau dan Hutan Lindung Singkati Batang Hari di Provinsi Jambi. Diwilayah Jambi terletak di Kabupaten Tebo seluas 23.000 hektar dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat seluas 10.000 hektar.Beberapa jenis fauna yang dapat dijumpai di Taman Nasional ini antara lain : Harimau Sumatera, Beruang Madu, Tapir, Siamang, kancil, Babi Hutan, Burung Rangkong, Kuaw, dan berbagai jenis satwalainnya. Sedangkan jenis flora langka yang endemik di kawasan ini adalah Cendawan Muka Rimau (Raflesia hasselti).Selain merupakan habitat dari berbagai jenis flora dan fauna langka dan dilindungi, kawasan ini juga merupakan tempat hidup dan bermukim beberapa komunitas suku pedalaman seperti Suku Talang Mamak, Suku Kubu (Anak Rimba) dan Suku Melayu Tua, yang menjadikan kawasan ini menarik untuk dijelajahi. Satu kelompok Suku Talang Mamak berada di Dusun Semarantihan Desa Suo-Suo Kecamatan Sumai, Kabupaten Tebo, Jambi.
5.      Jembatan Gentala Arasy
Merupakan salah satu ikon dari kota Jambi. Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 2012 dan telah diresmikan oleh bapak Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden. Sebenarnya ada dua objek di lokasi ini, yaitu menara Gentala Arasy dan jembatan Pedestrian. Tapi kebanyakan orang-orang menyebutnya jembatan Gentala Arasy. Jembatan Pedestrian merupakan jembatan untuk pejalan kaki. Bentuknya yang menyerupai huruf "S" ini terbentang berkelok-kelok di atas sungai Batanghari yang kira-kira panjang jembatannya sekitar 530 meter. Jembatan ini dibuat bukan untuk kendaraan, tapi hanya khusus untuk pejalan kaki. Menara Gentala Arasy merupakan sebuah museum dimana secara umum merupakan museum yang menceritakan tentang sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di kota Jambi. Bentuk menara ini pun sangat unik dan sangat "islami'. Bahkan awalnya saya mengira kalau itu adalah bangunan masjid.




0 komentar:

Posting Komentar