PROFIL KOTA JAMBI
1. LAMBANG
PROVINSI JAMBI
SEPUCUK
JAMBI SEMBILAN LURAH

Pada logo Provinsi Jambi yang
ditetapkan dengan Peraturan Daerah Nomor 1 tahun 1969 tertera kalimat
Sepucuk Jambi Sembilan Lurah.
PENGERTIAN LAMBANG DAERAH
- Bidang
dasar persegi lima :
Melambangkan jiwa dan semangat PANCASILA Rakyat Jambi. - Enam lobang mesjid dan satu keris serta fondasi mesjid dua susun batu diatas lima dan dibawah tujuh : Melambangkan berdirinya daerah Jambi sebagai daerah otonom yang berhak mengatur rumahtangganya sendiri pada tanggal 6 Januari 1957.
- Sebuah
mesjid :
Melambangkan keyakinan dan ketaatan Rakyat Jambi dalam beragama. - Keris
Siginjai :
Keris Pusaka yang melambangkan kepahlawanan Rakyat Jambi menentang penjajahan dan kezaliman menggambarkan bulan berdirinya Provinsi Jambi pada bulan Januari. - Cerana
yang pakai kain penutup persegi sembilan :
Melambangkan Keiklasan yang bersumber pada keagungan Tuhan menjiwai Hati Nurani. - GONG :
Melambangkan jiwa demokrasi yang tersimpul dalam pepatah adat "BULAT AIR DEK PEMBULUH, BULAT KATO DEK MUFAKAT". - EMPAT
GARIS :
Melambangkan sejarah rakyat Jambi dari kerajaan Melayu Jambi hingga menjadi Provinsi Jambi. - Tulisan yang berbunyi: "SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH" didalam satu pita yang bergulung tiga dan kedua belah ujungnya bersegi dua melambangkan kebesaran kesatuan wilayah geografis 9 DAS dan lingkup wilayah adat dari Jambi : "SIALANG BELANTAK
- BESI SAMPAI DURIAN BATAKUK RAJO DAN DIOMBAK NAN BADABUR, TANJUNG JABUNG".
2. SEJARAH BERDIRINYA PROVINSI JAMBI
Kota Jambi adalah sebuah kota sekaligus merupakan ibu kota dari provinsi Jambi, Indonesia. Dahulu dikenal dengan nama Djambi (1946-1972).Kota Jambi dibelah
oleh sungai yang bernama Batanghari, kedua kawasan tersebut
terhubung oleh jembatan yang bernama jembatan Aur Duri. Pemerintah
Kota Jambi dibentuk dengan Ketetapan Gubernur Sumatera No. 103/1946 sebagai
Daerah Otonom Kota Besar di Sumatera, yang kemudiannya disokong pula dengan
Undang - undang No.9/1956 dan dinyatakan sebagai Daerah Otonom Kota Besar dalam
lingkungan Provinsi Sumatera Tengah.Dengan pembentukan Provinsi Jambi pada
tarikh 6 Januari 1948, maka Kota Jambi secara rasmi menjadi Ibukota Provinsi.
Dengan yang demikian, Kota Jambi sebagai Daerah Tingkat II pernah terletak di
bawah tiga Provinsi yaitu Provinsi Sumatera, Provinsi Sumatera Tengah dan kini
pula di bawah Provinsi Jambi.
Melihat tempo waktu antara Proklamasi
Kemerdekan Indonesia pada 17 Agustus 1945 dengan pembentukan Pemerintah Kota
Jambi pada 17 Mei 1946, merupakan tempo masa yang agak singkat. Dengan yang
demikian jelas, bahawa Pembentukan Pemerintah Otonom Kota Besar Jambi pada saat
ini, dipengaruhi dengan kuat oleh jiwa dan semangat Proklamasi 17 Agustus 1945.
Walaupun demikian, menurut catatan sejarah, penubuhan Kota Jambi bersamaan dengan
berdirinya Provinsi Jambi, namun tarikh ulang tahunnya ditetapkan dua tahun
lebih awal, bersesuaian dengan Peraturan Daerah (Perda) Kota Jambi No.16/1985
yang disahkan oleh Gabenor Kepala Daerah Tingkat I Jambi dengan Surat Keputusan
No. 156/1986, bahwa Hari Pembentukan Pemerintah Kota Jambi adalah pada tarikh
17 May 1946.
3. PROFIL
WILAYAH KOTA JAMBI
a. Letak Wilayah dan Topografi
Secara geografis Provinsi Jambi
terletak pada 0o45’-2o45’ Lintang Selatan dan 101o10’-104o55’ Bujur Timur di
bagian tengah Pulau Sumatera, sebelah Utara berbatasan dengan Provinsi Riau,
Sebelah Timur dengan Laut Cina Selatan Provinsi Kepulauan Riau, sebelah Selatan
berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat berbatasan dengan
Provinsi Sumatera Barat. Posisi Provinsi Jambi cukup strategis karena langsung
berhadapan dengan kawasan pertumbuhan ekonomi yaitu IMS-GT (Indonesia,
Malaysia, Singapura Growth Triangle). Luas wilayah Provinsi Jambi sesuai dengan
Undang-undang Nomor 19 tahun 1957, tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra
Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau, yang kemudian ditetapkan menjadi
Undang-Undang Nomor 61 tahun 1958 (Lembaran Negara Tahun 1958 Nomor 112) adalah
seluas 53.435,72 km2 dengan luas daratan 50.160,05 km2 dan luas perairan
3.274,95 Km2 yang terdiri atas :
1.
Kabupaten
Kerinci 3.355,27 Km2 (6,67%)
2.
Kabupaten
Bungo 4.659 Km2 (9,25%)
3.
Kabupaten
Merangin 7.679 Km2 (15,25%)
4.
Kabupaten
Sarolangun 6.184 Km2 (12,28%)
5.
Kabupaten
Batanghari 5.804 Km2 (11,53%)
6.
Kabupaten
Muaro Jambi 5.326 Km2 (10,58%)
7.
Kabupaten
Tanjab Barat 4.649,85 Km2 (9,24%)
8.
Kabupaten
Tanjab Timur 5.445 Km2 (10,82%)
9.
Kabupaten
Tebo 6.641 Km2 (13,19%)
10.
Kota Jambi
205,43 Km2 (0,41%)
11.
Kota Sungai
Penuh 391,5 Km2 (0,78%)
Secara administratif, jumlah
kecamatan dan desa/kelurahan di Provinsi Jambi tahun 2010 sebanyak 131
Kecamatan dan 1.372 Desa/Kelurahan, dimana jumlah Kecamatan dan Desa/Kelurahan
terbanyak di Kabupaten Merangin yaitu 24 Kecamatan dan 212 Desa/Kelurahan.
Secara topografis, Provinsi Jambi
terdiri atas 3 (tiga) kelompok variasi ketinggian (Bappeda, 2010):
- Daerah dataran rendah 0-100 m (69,1%), berada di wilayah timur sampai tengah. Daerah dataran rendah ini terdapat di Kota Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, sebagian Kabupaten Batanghari, Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin
- Daerah dataran dengan ketinggian sedang 100-500 m (16,4%), pada wilayah tengah. Daerah dengan ketinggian sedang ini terdapat di Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin serta sebagian Kabupaten Batanghari; dan
- 3) Daerah dataran tinggi >500 m (14,5%), pada wilayah barat. Daerah pegunungan ini terdapat di Kabupaten Kerinci, Kota Sungai Penuh serta sebagian Kabupaten Bungo, Kabupaten Tebo, Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin.
Provinsi Jambi memiliki topografi
wilayah yang bervariasi mulai dari ketinggian 0 meter dpl di bagian timur
sampai pada ketingian di atas 1.000 meter dpl, ke arah barat morfologi lahannya
semakin tinggi dimana di bagian barat merupakan kawasan pegunungan Bukit
Barisan yang berbatasan dengan Provinsi Bengkulu dan Sumatera Barat yang
merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat.

PETA KOTA
JAMBI

b. Klimatologi
Provinsi Jambi sebagai salah satu
Provinsi di Sumatera yang terkenal dengan iklim tropis dan kaya akan sumberdaya
alam dan keanekaragaman hayati, namun juga tetap menjadi kerentanan terjadi
perubahan iklim. Gejala perubahan iklim seperti kenaikan temperatur, perubahan
intensitas dan periode hujan, pergeseran musim hujan/kemarau, dan kenaikan muka
air laut, akan mengancam daya dukung lingkungan dan kegiatan seluruh sektor
pembangunan. Sepanjang tahun 2011, Provinsi Jambi memiliki karakteristik curah
hujan sedang dan lembab, sehingga Jambi termasuk daerah yang beriklim tropis.
Rata-rata curah hujan pada tahun 2010 mencapai 3.030 mm, sedangkan jumlah
penyinaran matahari 4,2 jam perhari dengan kelembaban udara rata-rata sebesar
97%. Suhu udara rata-rata mencapai 27 derajat Celsius, sedangkan untuk dataran
tinggi di Wilayah Barat mencapai 22 derajat celcius.
c. Hidrologi
Kota Jambi
dibelah oleh Sungai Batanghari menjadi 2 (dua) bagian besar yaitu bagian
selatan dan bagian utara. Bagian selatan merupakan bagian terbesar wilayah Kota
Jambi dimana di wilayah bagian selatan ini sedikitnya terdapat 5 (lima) buah
anak Sungai Batanghari, yaitu :
a. Sungai Kenali
Besar
Sungai ini melewati Kecamatan
Kotabaru dan Kecamatan Telanaipura,kemudian masuk kedalam Danau Kenali terus ke
Danau Sipin dan akhirnya bermuara ke Sungai Batanghari.
b. Sungai
Kambang
Daerah pengaliran Sungai Kambang
meliputi sebagian Kelurahan Simpang III Sipin di Kecamatan Kotabaru dan
Kelurahan Simpang IV Sipin.
c. Sungai Asam
Daerah pengaliran Sungai Asam
meliputi Kecamatan Kota Baru (yaitu meliputi sebagian Kelurahan Kenali Asam
Bawah, sebagian Kelurahan Kenali Asam Atas, Kelurahan Sukakarya, Kelurahan
Simpang III Sipin dan Kelurahan Paal Lima), Kecamatan Jelutung (yaitu meliputi
Kelurahan Jelutung, Kelurahan Lebak Bandung dan Kelurahan Cempaka Putih), Kecamatan
Pasar Jambi (meliputi Kelurahan Beringin dan Kelurahan Orang Kayo Hitam).
d. Sungai
Tembuku
Daerah pengaliran Sungai tembuku
meliputi sebagian Kecamatan The Hok, Kelurahan Tambak Sari, sebagian Kelurahan
Kebon Handil, Kelurahan Jelutung, sebagian Kelurahan Cempaka Putih, Kelurahan
Talang Jauh, sebagian Kelurahan Sulanjana, Kelurahan Rajawali dan Kelurahan
Kasang.
e. Sungai
Selincah
Daerah pengaliran Sungai Selincah
meliputi Kelurahan Talang Bakung dan Kelurahan Sejinjang.Sungai Batanghari
selain berfungsi hidrologis juga berfungsi sebagai prasarana transportasi dan
penunjang kegiatan ekonomi masyarakat serta sebagai sumber air baku untuk air minum. Sedangkan danau
yang ada di Kota Jambi antara lain adalah Danau Sipin, Danau Teluk, Danau
Penyengat dan Danau Kiambang.
d. Penggunaan Lahan
Di luar hutan, penggunaan lahan
Provinsi Jambi masih didominasi oleh perkebunan karet dengan kontribusi sebesar
26,20%. Diikuti oleh perkebunan sawit sebanyak 19,22%. Sisanya berturut-turut
terlihat pada tabel 1.2 di bawah ini.

Sebagian besar lahan di Provinsi
Jambi digunakan untuk kegiatan budidaya pertanian, baik pertanian lahan sawah
maupun pertanian lahan bukan sawah. Berdasarkan karakter komplek ekologinya,
perkembangan kawasan budidaya khususnya untuk pertanian terbagi atas tiga daerah
yaitu kelompok ekologi hulu, tengah dan hilir. Masing-masing memiliki karakter
khusus, dimana pada komplek ekologi hulu merupakan daerah yang terdapat kawasan
lindung, ekologi tengah merupakan kawasan budidaya dengan ragam kegiatan yang
sangat bervariasi dan komplek ekologi hilir merupakan kawasan budidaya dengan
penerapan teknologi tata air untuk perikanan budidaya dan perikanan tangkap.
e. Potensi Wilayah
Berdasarkan Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional, Kawasan
Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara,
pertahanan dan keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau Iingkungan,
termasuk wilayah yang ditetapkan sebagai warisan dunia. Kawasan strategis
nasional yang berada di Provinsi Jambi ditetapkan dengan pertimbangan dari
sudut kepentingan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup. Adapun Kawasan
Strategis Nasional yang termasuk dalam kawasan wilayah Provinsi Jambi meliputi
:
1. Kawasan Taman Nasional Kerinci
Seblat (Provinsi Jambi, Sumatera Barat, Bengkulu dan Sumatera Selatan)
2. Kawasan Taman Nasional Berbak
(Provinsi Jambi)
3. Kawasan Taman Nasional Bukit
Tigapuluh (Provinsi Jambi dan Riau)
4. Kawasan Taman Nasional Bukit
Duabelas (Provinsi Jambi)
4. Demografi Penduduk
Menurut BPS (2010), penduduk
Provinsi Jambi tahun 2010 berjumlah 3.092.265 jiwa dengan tingkat kepadatan
rata-rata sebesar 61,65 jiwa/km2 kecuali Kota Jambi sebesar 2.588,99 jiwa/km2
dan Kota Sungai Penuh sebesar 210,20 jiwa/km2. Sebagaimana karakter ibukota
Provinsi pada umumnya yaitu sebagai pusat pemerintahan, industri dan perdagangan,
maka Kota Jambi juga merupakan daerah tujuan arus migrasi. Dilihat dari posisi
kewilayahan barat dan timur, maka prosentase distribusi penduduk di kedua
wilayah tersebut terlihat relative seimbang, yaitu 52% untuk wilayah timur
(Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur dan Kota
Jambi), dan 48% untuk wilayah barat (Kerinci, Sungai Penuh, Merangin,
Sarolangun, Bungo dan Tebo).


5. KONDISI
MASYARAKAT
a. Bidang Sosial Budaya dan
Kehidupan Beragama
Pembangunan bidang sosial
budaya dan keagamaan terkati erat dengan kualitas kehidupan manusia, masyarakat
dan lingkungan sosial. Kondisi tersebut tercermin dari jumlah dan komposisi
demografi, maupun aspek kualitas sumber daya manusia (SDM).
1. Di bidang kependudukan,
upaya pengendalian laju pertumbuhan dan penyebaran penduduk yang dilakukan
selama ini, dari waktu ke waktu telah mampu menekan tingkat pertumbuhan
penduduk dan menyeimbangkan penyebarannya. Namun demikian, jumlah penduduk Provinsi
Jambi terus meningkat, baik akibat kelahiran maupun perpindahan penduduk dari
luar daerah. Pada tahun 2000 penduduk provinsi Jambi berjumlah 2.407.166 jiwa,
pada tahun 2004 meningkat menjadi 2.619.553 jiwa dengan laju pertumbuhan
penduduk sebesar 1.6 persen dan dengan laju pertumbuhan demikian maka pada
tahun 2025 diprediksi meningkat menjadi 3.509.531 jiwa. Begitu pula dilihat
dari mobilitas penduduk terdapat kecenderungan peningkatan urbanisasi,sehingga
peningkatan jumlah penduduk terkonsentrasi pada wilayah perkotaan.
2.Meningkatnya pemahaman
terhadap keragaman budaya, pentingnya toleransi, dan pentingnya sosialisasi
penyelesaian masalah tanpa kekerasan, serta mulai berkembangnya interaksi
antarbudaya merupakan pertanda pembangunan budaya sudah mengalami kemajuan.Namun
di sisi lain upaya pembangunan jatidiri bangsa seperti : penghargaan terhadap
nilai budaya nasional dan budaya daerah, nilainilai solidaritas sosial,
kekeluargaan, dan rasa cinta tanah air dirasakan semakin memudar. Hal tersebut
disebabkan antara lain oleh kurangnya keteladanan para pemimpin, lemahnya
budaya patuh pada hukum,cepatnya penyerapan budaya global yang negatif, dan
kurang mampunya menyerap budaya global yang lebih sesuai dengan karakter bangsa,
serta ketidak merataan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.
b. Bidang Sarana dan
Prasarana
1. Perkembangan
pertumbuhan penduduk Provinsi Jambi yang merupakan pijakan dasar dalam
perencanaan pembangunan dalam tiga dekade terakhir ini pertumbuhannya cukup
signifikan, dimana selama periode 1971 – 1980 mencapai 4,07%. Kemudian sedikit
turun selama periode 1980-1990 menjadi sebesar 3,4% dan untuk periode 1990-2000
turun lagi menjadi 1,84%. Untuk ke depan, pertumbuhan penduduk rata-rata diperkirakan
tetap seperti periode sebelumnya selama periode 2000-
2010 kemudian turun pada periode
2010-2020 menjadi 1,44% dan akhirnya pada 2020-2025 tingkat pertumbuhannya
menjadi 1,04%.Dengan pola pertumbuhan penduduk seperti di atas diperkirakan
jumlah penduduk mencapai 3.509.531 jiwa pada tahun 2025, kebutuhan perumahan selama
20 tahun mendatang diperkirakan akan semakin meningkat pula. Peningkatan jumlah
penduduk sangat erat kaitannya dengan peningkatan kebutuihan perumahan. Pada
tahun 1999 kebutuhan rumah untuk Provinsi Jambi mencapai 550.260 unit, namun pada
tahun 2004 terjadi peningkatan yang cukup tajam yaitu sudah mencapai 813.335
unit dengan laju pertumbuhan 8,13% per tahun. Dari total kebutuhan untuk tahun
2004 tersebut yang dapat dipenuhi baru mencapai 732.477 unit yang pemenuhannya
oleh perumnas 3.950 unit (0,54%), perorangan 696.858 unit (95,14%) dari yang
dapat dipenuhi. Permasalahan dalam hal ini adalah peran pemerintah dan swasta
dalam penyediaan rumah bagi masyarakat masih sangat terbatas dan sampai saat
ini umumnya kebutuhan rumah sebagian besar penyediaan kebutuhan masih
diusahakan sendiri (perorangan) yang mencapai 85,68% dari total kebutuhan
perumahan.
2. Sampai saat ini
kemampuan pemerintah dalam penyediaan sarana dan prasarana perumahan layak dan
murah bagi penduduk Jambi yang berpendapatan rendah masih sangat terbatas.
Terbatasnya kemampuan pemerintah ini menjadi pemicu menurunnya kualitas kawasan
perumahan yang dihuni oleh masyarakat berpendapatan rendah.Menurunnya kualitas
lingkungan perumahan dan permukiman ini khususnya di daerah perkotaan merupakan
permasalahan yang perlu diantisipasi ke depan. Hal ini disebabkan karena cakupan penanganan persampahan
di kawasan perkotaan di Provinsi Jambi masih sangat rendah. Kondisi ini
menyebabkan pencemaran lingkungan akibat meningkatnya jumlah sampah dan akan berpengaruh
pada kesehatan lingkungan dan derajat kesehatan masyarakat.
3.Sejak terjadi Krisis
ekonomi pada pertengahan tahun 1997 sangat berdampak pada menurunnya kualitas
infrastruktur terutama prasarana jalan yang saat ini kondisinya sangat
memperhatinkan. Untuk Provinsi Jambi sampai tahun 2004 dari seluruh panjang
jalan yang berada dalam kondisi baik hanya mencapai 43,4%, kondisi sedang 35,6%
kondisi rusak 27,4% dan rusak berat mencapai 16,1%. Bahkan pada wilayah
tertentu kondisi jalan rusak mencapai 80%. Cukup tingginya prosentase jalan
yang rusak dan rusak berat ini
tidak terlepas dari akibat pembebanan muatan lebih (excessive over loading)
terutama yang disebabkan oleh truk dengan tonase tinggi sehingga berakibat
hancurnya jalan sebelum umur teknis jalan tersebut tercapai. Dengan cukup
tingginya prosentase jalan yang rusak dan rusak berat tersebut, maka ke depan
Pemerintah Provinsi Jambi harus tetap memprioritaskan perbaikan dan peningkatan
prasarana jalan seluruh wilayah Jambi. Disamping itu untuk mendorong
pengembangan wilayah, pembangunan
prasarana transportasi jalan yang merupakan urat nadi perekonomian ini harus
terus ditingkatkan. Hal ini disebabkan pertumbuhan ekonomi daerah yang terus
meningkat membutuhkan prasarana jalan yang terus meningkat pula. Disamping
pembangunan jalan, saat ini juga
memperioritaskan pembangunan infrastruktur transportasi darat lainnya berupa
jembatan yakni pembangunan Jembatan Batanghari II yang terletak di Kelurahan Sijenjang,
Jambi – Muara Sabak. Jembatan ini akan menghubungkan Kota Jambi denga wilayah
sekitarnya, yaitu Kabupatan Tanjung Jabung Timur dan Kabupaten Muaro Jambi dan
memiliki panjang sekitar 2.262 meter dan lebar sekitar 9 meter yang saat ini
masih dalam tahap pengerjaan.
c. Bidang Wilayah dan Tata Ruang
1. Untuk Provinsi Jambi
upaya-upaya pembangunan wilayah yang relatif masih tertinggal, walaupun telah
dimulai dalam dua dekade terakhir namun sampai saat ini masih banyak dijumpai
wilayah-wilayah tertinggal yang belum tersentuh oleh program-program pembangunan
sehingga masyarakatnya mempunyai keterbatasan akses terhadap pelayanan sosial,
ekonomi dan politik serta terisolir dari wilayah di sekitarnya terutama daerah
perkotaan. Keadaan kabupaten. Keadaan ini akan menciptakan kantong-kantong
kemiskinan sehingga berpengaruh terhadap jumlah penduduk miskin di provinsi
Jambi. Sampai tahun 2004 jumlah penduduk miskin masih mencapai 12,45% dari
jumlah penduduk atau mencapai 325.000 jiwa. Dengan demikian untuk kesejahteraan
kelompok masyarakat yang hidup di wilayah tertinggal termasuk komunitas adat
terpencil (KAT) atau suku anak dalam (SAD) yang umumnya tergolong miskin ini
memerlukan perhatian dan keberpihakan pembangunan yang besar dari pemerintah Provinsi
Jambi. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan wilayah tertinggal,
termasuk yang masih dihuni oleh komunitas adat terpencil (KAT) antara lain:
(1) sangat minimnya sarana
perhubungan yang menghubungkan wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih
maju: (2) menyebarnya tempat tinggal penduduk dengan kepadatannya yang relatif
rendah: (3) Kebiasaan hidup berpindah (melangun) khususnya bagi komunitas adat
tertinggal (KAT) atau suku anak dalam (SAD) yang hidup mengembara pada wilayah
tertentu di hutan-hutan provinsi Jambi. (4) miskinnya wilayah-wilayah ini dengan
sumber daya alam dan sumber daya manusia; (5) pembangunan di wilayah tertinggal
belum diprioritaskan oleh pemerintah (6) dukungan sektor terkait belum optimal
untuk pengembangan wilayah-wilayah tertinggal ini.
2. Untuk Provinsi Jambi
cukup banyak wilayah-wilayah yang memiliki produk unggulan (sawit, karet,
kelapa dan casiavera dan tanaman pengan) serta lokasinya yang strategis, namun
belum dikembangkan secara optimal seperti contohnya Kecamatan Jangkat dengan
produk unggulannya kentang dan kopi. Hal ini disebabkan antara lain: (1) lemahnya
penguasaan teknologi dan terbatasnya informasi pasar dan untuk pengembangan
produk unggulan: (2) belum berkembangnya jiwa kewirausahaan dari petani dan
sikap profesionalisme dari pelaku dunia usaha; (3) dukungan kebijakan daerah
yang berpihak pada petani dan pelaku usaha swasta belum optimal; (4)
infrastruktur kelembagaan sosial dan ekonomi yang berorientasi untuk pengembangan
usaha belum berkembang; (5) koordinasi, sinergi, dan kerjasama diantara
pelaku-pelaku pengembangan kawasan masih lemah untuk meningkatkan daya saing
produk unggulan; (6) keterbatasan akses petani dan pelaku usaha skala kecil
terhadap modal pengembangan usaha, input produksi, dukungan teknologi, dan jaringan
pemasaran untuk pengambangan peluang usaha dan kerjasama investasi; (7)
prasarana dan sarana fisik (jalan-jalan ke sentra produksi dan ekonomi) untuk
mendukung pengembangan kawasan dan produk unggulan daerah sangat terbatas;
serta (8) kerjasama antar kabupaten untuk mendukung peningkatan daya saing kawasan
dan produk unggulan belum optimal. Pada hakekatnya wilayah-wilayah yang
strategis ini dapat tumbuh lebih cepat karena memiliki produk unggulan, dan
diharapkan setelah wilayah ini berkembang dapat memicu pertumbuhan
wilayah-wilayah sekitarnya
yang masih tertinggal karena
miskin sumberdaya dan masih terbelakang.
3. Pesatnya aktivitas
pembangunan terutama di perkotaan telah membawa dampak yang negatif baik secara
fisik (penurunan kualitas lingkungan, konversi lahan pertanian) maupun permasalahan
sosial ekonomi. Untuk kedepan Provinsi Jambi harus mengantisipasi terhadap dampak
negatif yang ditimbulkan oleh pembangunan di perkotaan tersebut. Dampak
tersebut antara lain adalah; (1) untuk mendukung pertumbuhan ekonomi perkotaan
telah dilakukan eksploitasi yang berlebihan terhadap sumberdaya alamnya
sehingga menurunnya kualitas lingkungan fisiknya dan timbulnya polusi; (2)
meningkatnya konversi lahan pertanian produktif menjadi kawasan pemukiman, perdagangan,
dan industri; (3) terjadinya penurunan kualitas hidup masyarakat di perkotaan
karena permasalahan sosial-ekonomi, serta penurunan kualitas pelayanan
kebutuhan dasar perkotaan.
4. Secara umum untuk
Provinsi Jambi kondisi sosial ekonomi masyarakat yang tinggal di pedesaan
umumnya masih jauh tertinggal dibandingkan dengan mereka yang tinggal di
perkotaan. Keadaan ini disebabkan kecenderungan investasi ekonomi oleh swasta
maupun pemerintah (infrastruktur dan kelembagaan) terkonsentrasi di daerah
perkotaan. Selain dari pada itu, kegiatan ekonomi di wilayah perkotaan masih banyak
yang yang tidak sinergis dengan kegiatan ekonomi yang dikembangkan di wilayah
pedesaan. Akibatnya, peran kota yang diharapkan dapat mendorong perkembangan
pedesaan (trickling down effect) justru memberikan dampak yang merugikan
pertumbuhan pedesaan (backwash effects).
5. Untuk Provinsi Jambi
pembangunan yang dilakukan di suatu wilayah saat ini masih sering dilakukan
tanpa mempertimbangkan keberlanjutannya. Keinginan untuk memperoleh keuntungan
ekonomi jangka pendek seringkali menimbulkan keinginan untuk mengeksploitasi
sumber daya alam (SDA) secara berkelebihan bahkan cendrung agresif dan
exploitatif sehingga menurunkan kualitas
(degradasi) dan kuantitas
(deplesi) SDA dan lingkungan hidup. Selain itu, seringkali pula terjadi konflik
antar kehutanan dan pertambangan. Salah satu penyebab terjadi permasalahan
tersebut adalah karena pembangunan yang dilakukan dalam wilayah tersebut belum mengunakan
”Rencana Tata Ruang” sebagai acuan koordinasi dan sinkronosasi pembangunan
antar sektor dan antar wilayah. Untuk Provinsi Jambi telah terjadi penyimpangan
pemanfaatan dan pengendalian ruang RTRW Provinsi Jambi karena a). Tumpang tindihnya
pengalokasian ruang baik untuk perkebunan besar maupun HTI seperti terlihat di
kecamatan Tungkal Ulu bagian selatan,Mendahara Selatan dan Muara Bulian. b).
Tumpang tindihnya pengalokasian ruang untuk perkebunan besar dengan pemukiman transmigrasi
dan Hutan Lindung gambut seperti Pamenang, Tungkal Ulu, Mendahara dan Kuamang
Kuning. c). Tumpang tindihnya areal HPH dengan kawasan lindung, sehingga
diperkirakan beberapa areal HPH yang telah memasuki kawasan hutan lindung
seperti di kecamatan Muara Siau, Jangkat, Batang Asai, Kumpeh. Hal ini berarti
perlu dilakukan peninjauan kembali dengan mengakomodasikan perubahanperubahan tersebut,
baik perubahan ekonomi, asumsi-asumsi, strategi maupun arah kebijakan dalam
pengelolaan ruang wilayah dengan mewujudkan pola dan struktur tata ruang yang
baru.
6. Potensi
Wisata Kota Jambi :
1. Candi Muaro Jambi
Kompleks Percandian
Muaro Jambi yang di dalamnya tersimpan lebih dari 80 reruntuhan candi dan
sisa-sisa permukiman kuno dalam rentang abad IX-XV Masehi. Meskipun belum
sepopuler candi lain di Pulau Jawa, situs purbakala yang diyakini juga sebagai
salah satu pusat pengembangan agama Buddha di masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya
ini merupakan aset yang dapat dimanfaatkan di bidang ilmu pengetahuan,
kebudayaan, pariwisata, sosial, agama, dan ekonomi. Situs purbakala ini
membentang dari barat ke timur di tepian Sungai Batanghari sepanjang
7,5kilometer.Kompleks percandian ini dapat ditempuh melalui darat dan sungai
dengan jarak dari Kota Jambi sejauh 30 Km. Dari sekitar 80 reruntuhan candi
yang sudah diketahui, yang oleh masyarakat setempat disebut menapo, baru
sebagian kecil yang sudah dipugar. Berdasarkan sisa-sisa reruntuhan yang ada,
sebuah bangunan menggunakan batu merah.
Candi-candi yang sudah dibangun dan
bisa dikunjungi wisatawan adalah Candi Vando Astano, Candi Gumpung, Candi
Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Gedong 1, Candi Gedong 2, dan kolam Talaga
Rajo. Juga terdapat Kanal-Kanal Tua yang mengelilingi komplek Percandian ini.
Lokasinya tersebar di Desa Muaro Jambi, Kemingking Dalam, dan Danau Lamo.
Pemprov Jambi telah menyusun master plan pengembangan situs candi Muaro Jambi
dan berikut Design Engineering (DED) detail untuk menentukan Restorasi
Pengembangan Situs tersebut sebesar lebih kurang 12 triliyun.
2.
Hutan Harapan
Hutan Harapan merupakan proyek restorasi hutan
produksi yang terletaperbatasan Provinsi Jambi-Sumatera Selatan yang mempuanyai
luas sekitar 101.000 Ha. Sejak 2006, konsorsium PT Restorasi Ekosistem
Konservasi Indonesia memperoleh konsesi dari pemerintah untuk merestorasi hutan
tersebut. Di hutan ini juga terdapat sekitar 280 jenis burung, 69 jenis di antaranya
hampir punah. Selain itu, terdapat 159 jenis pohon. Salah satu di antaranya
sudah rentan, yaitu jenis kayu bulian dan juga terdapat 49 jenis binatang
mamalia dan 43 jenis binatang amfibi, permukiman Suku Anak Dalam (SAD) dan Suku
Bathin Sembilan. Kedua komunitas ini merupakan suku asli tertinggal yang telah
menetap di dalam hutan sejak ratusan tahun lalu, yang hingga kini masih
mengandalkan hutan sebagai tempat tinggal dan mencari makan.Dalam kunjungannya
ke hutan harapan Pangeran Charles menyatakan kekagumannya melihat keelokan
hutan Harapan. Hutan yang memiliki luas sekitar 100 ribu hektare ini dinilai
masih relatif baik. "Sangat bagus karena hutan ini nantinya dapat
mengurangi emisi karbon. Kondisi ini perlu didukung semua pihak," ujar
Pangeran Charles dalam kunjungan ke Hutan Harapan kemarin.
3. Taman
Nasional Berbak
Merupakan kawasan pelestarian alam
untuk konservasi hutan rawa terluas di Asia Tenggara yang belum terjamah oleh
eksploitasi manusia. Keunikannya berupa gabungan yang menarik antara hutan rawa
gambut dan hutan rawa air tawar yang terbentang luas di pesisir Timur
Sumatera.Jenis tumbuhan di taman nasional ini antara lain meranti (Shorea sp.),
dan berbagai jenis palem. Taman Nasional Berbak terkenal memiliki paling banyak
jenis palem tanaman hias di Indonesia. Jenis palem tanaman hias yang tergolong
langka antara lain jenis daun payung (Johanesteijmannia altifrons) serta jenis
yang baru ditemukan yaitu Lepidonia kingii (Lorantaceae) yang berbunga besar
dengan warna merah/ungu. Ratusan bahkan ribuan burung migran dapat dilihat di
taman nasional ini, yang dapat menimbulkan kekaguman apabila burung-burung
tersebut terbang secara berkelompok.
4.
Taman Nasional Bukit Tiga puluh Kawasan taman nasional ini memiliki luas keseluruhan 144.223 hektar. Sebelumnya
merupakan dua buah kawasan hutan lindung yaitu Hutan Lindung Haposipin di
Provinsi Riau dan Hutan Lindung Singkati Batang Hari di Provinsi Jambi. Diwilayah Jambi terletak di
Kabupaten Tebo seluas 23.000 hektar dan Kabupaten Tanjung Jabung Barat seluas
10.000 hektar.Beberapa jenis fauna yang dapat dijumpai di Taman Nasional ini
antara lain : Harimau Sumatera, Beruang Madu, Tapir, Siamang, kancil, Babi
Hutan, Burung Rangkong, Kuaw, dan berbagai jenis satwalainnya. Sedangkan jenis
flora langka yang endemik di kawasan ini adalah Cendawan Muka Rimau (Raflesia
hasselti).Selain merupakan habitat dari berbagai jenis flora dan fauna langka
dan dilindungi, kawasan ini juga merupakan tempat hidup dan bermukim beberapa
komunitas suku pedalaman seperti Suku Talang Mamak, Suku Kubu (Anak Rimba) dan
Suku Melayu Tua, yang menjadikan kawasan ini menarik untuk dijelajahi. Satu
kelompok Suku Talang Mamak berada di Dusun Semarantihan Desa Suo-Suo Kecamatan
Sumai, Kabupaten Tebo, Jambi.
5. Jembatan
Gentala Arasy
Merupakan salah satu ikon
dari kota Jambi. Jembatan ini mulai dibangun pada tahun 2012 dan telah
diresmikan oleh bapak Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden. Sebenarnya ada dua
objek di lokasi ini, yaitu menara Gentala Arasy dan jembatan Pedestrian. Tapi
kebanyakan orang-orang menyebutnya jembatan Gentala Arasy. Jembatan Pedestrian
merupakan jembatan untuk pejalan kaki. Bentuknya yang menyerupai huruf
"S" ini terbentang berkelok-kelok di atas sungai Batanghari yang
kira-kira panjang jembatannya sekitar 530 meter. Jembatan ini dibuat bukan
untuk kendaraan, tapi hanya khusus untuk pejalan kaki. Menara Gentala Arasy
merupakan sebuah museum dimana secara umum merupakan museum yang menceritakan
tentang sejarah masuk dan berkembangnya agama Islam di kota Jambi. Bentuk menara
ini pun sangat unik dan sangat "islami'. Bahkan awalnya saya mengira kalau
itu adalah bangunan masjid.



0 komentar:
Posting Komentar